Kingvoyage Travel Planner: CURUG OMAS BANDUNG

Selasa, 06 Juni 2017

CURUG OMAS BANDUNG

Curug Omas merupakan salah satu curug yang bisa dikunjungi saat berkunjung ke Taman Wisata Maribaya, Lembang. 

Kendati demikian, Curug Omas sebenarnya masuk ke dalam wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.  Djuanda. Dengan kata lain, lokasi curug ini memang lebih dekat jika dituju melalui Maribaya. Curug sendiri sebenarnya merupakan istilah lokal untuk menyebut air terjun dalam bahasa Indonesia.

Curug atau air terjun Ciomas, sebenarnya bisa dituju melalui Tahura Djuanda dengan pintu masuk di Goa Pakar atau Goa Belanda. Jarak tempuh kira-kira 5 KM, dengan cara berjalan kaki. Jarak yang cukup jauh memang, sehingga sangat recomended bagi mereka yang memang menyenangi long march atau hiking, Di samping juga jalannya yang sedikit menanjak.

Namun demikian, mereka yang mengunjungi curug omas melalui Pakar tak akan kecewa dengan pemandangan alamnya yang sangat menawan. Kiranya, rasa lelah yang mendera sebanding dengan pengalaman dan pemandangan yang kita dapat.

Curug Ciomas sendiri, bisa dikatakan sebagai curug tertinggi yang berada di aliran sungai Cikawari. Ketinggian air terjunnya diprediksi mencapai 30 meter. Sementara kedalaman sungai Cikawari di sekitar curug mencapai 10 m. Dengan demikian, sangat dilarang bagi pengunjung untuk bermain-main atau mendekati curug secara langsung.

Untuk itu, pengelola menyediakan fasilitas lain berupa jembatan gantung agar pengunjung bisa menikmati keindahan curug dari dekat. Meski untuk melintasi jembatan ini diperlukan keberanian yang tinggi. Sebagaimana jembatan gantung, keadaan jembatan yang bergoyang saat dilintasi tentu saja akan menguras adrenaline bagi beberapa orang. Terlebih dari jembatan ini, kita bisa melihat keadaan dasar curug yang banyak bertebaran batu-batu besar dam tajam.

Selain itu, pengunjung pun bisa menuruni tangga-tangga batu yang berada di samping jembatan. Tangga itu lagi-lagi menghubungkan dengan jembatan yang ada di bawah. Dari sini, pengunjung bisa melihat air terjun dengan posisi lebih bawah dan lebih dekat. Sekaligus merasakan seperti apa terpaan bulir-bulir air terjun yang terbawa angin.

Kedua jembatan ini, sebenarnya hanya boleh dilewati oleh 5 pengunjung saja. Namun demikian, banyaknya jumlah pengunjung kerap membuat mereka tak sabar dan ingin merasakan sensasi mendekati air terjun lewat jembatan tersebut. Alhasil, jembatan kerap bergoyang saat dilintasi. Keadaan seperti ini, bukan tak mungkin akan mengakibatkan kecelakaan meski hingga saat ini belum ada pemberitaan tentang hal tersebut.